Kisah Cinta Sejati Seorang Istri Kepada Suaminya - Renungan Islam | Kisah Inspirasi

Kisah Cinta Sejati Seorang Istri Kepada Suaminya

Seorang istri salehah sudah pasti sangat mencintai dan menyayangi suaminya. Sebagai muslimah yang baik ia mengetahui surganya dari sang suami. Dan sebagai suami sudah seharusnya juga mencintai dan menyayangi istri, disamping bakti terbesar suami kepada Ibunya tercinta di dunia. Sebelum melanjutkan membaca kisah dibawah ini, berikut saran artikel yang layak Anda baca terlebih dahulu.


Walaupun kisah ini datang dari negeri orang, sekiranya kita semua dapat mengambil hikmah dalam kisahnya. Inilah kisah cinta sejati seorang istri kepada suaminya yang menguras air mata.

Ilustrasi wanita menangis
Berikut kisahnya…

Ia memulai semuanya dari nol dengan tidak mempunyai apa-apa. Pekerjaan pertamanya hanyalah seorang kuli bangunan. Pada akhirnya ia menjabat kepala bagian di sebua perusahaan kontruksi. Karena pengalamannya menjadi kepala bagian, pelan-pelan ia membentuk tim pekerja sendiri yang menjadi sebuah perusahaan kontruksi terkenal.

Dibalik kesuksesan pria tersebut tentu ada seorang istri yang selalu menemaninya. Sang istri menemaninya sejak kuli bangunan. Semakin hari semakin tua usianya, penampilannya sekarang sangat lusuh, kulit tidak halus seperti dulu, tubuh tidak seindah dulu lagi jika dibandingkan dengan perempuan cantik lainnya, ia (istri) seorang yang sederhana dan pendiam. Kehadirannya sebagai istri mengingatkan masa lalu yang sulit.

Kemudian…

Sang suami mengatakan dalam benaknya, inilah saatnya pernikahan mereka harus berakhir. Ia pergi ke Bank dan menabungkan sebesar 1 juta Yuan ke rekening istrinya. Kemudian ia pergi membeli sebuah rumah di Kota. Sebenarnya ia (suami) bukanlah orang tidak berperasaan, ia terlalu takut kalau disaat tuanya ia tidak bisa mempersiapkan bekal untuk istrinya. Akhirnya ia mengajukan cerai untuk istrinya.

Sang istri duduk dihadapan suaminya tercinta, ia tidak berbicara sepatah katapun, ia terlihat tenang dan mendengar semua penjelasan dari suaminya.

Tiba waktunya sang istri akan pergi dari rumah. Suami membantunya untuk memindahkan baran-barang yang akan dibawa ke rumah baru yang telah dibeli oleh suaminya. Inilah akhir perjalanan pernikahan mereka selama 20 tahun berkakhir begitu saja.

Setelah istrinya pergi, suaminya berangkat kerja, hatinyapun tidak tenang kemudian ia memutuskan pulang ke rumah saat siang hari. Ia mendapati istrinya benar-benar telah pergi, namun ia menemukan sepucuk surat yang ditulis oleh istrinya dan juga buku tabungan 1 juta Yuan di meja.

Ini isi suratnya…

“ Untuk suamiku…Saya pamit, pulang ke rumah orang tua saya. Semua selimut telah dicuci bersih, dijemur di bawah matahari, kusimpan di dalam kamar belakang dan lemari sebelah kiri. Jangan lupa memakainya ketika cuaca mulai dingin. Sepatu kulitmu telah kebersihkan semua, nanti jika sewaktu-waktu sepatu tersebut rusak, jangan lupa bawa ke toko sepatu di sudut jalan untuk diperbaiki. Kemejamu kugantung pada lemari baju sebelah atas, kaos kaki, ikat pinggang kutaruh di dalam laci kecil di sebelah bawah. Setelah aku pergi, jangan lupa meminum obat dengan teratur, kamu selalu bermasalah dengan penyakit lambung. Aku telah meminta tolong kepada tetangga untuk membelikan obat  lambung, cukup untuk persediaanmu selama setengah tahun. Oh ya, kamu juga sering sekali keluar rumah karena sibuk bekerja dan sering tanpa membawa kunci, jadi aku mencetak 1 set kunci serta kutitipkan pada penjaga rumah (security) di lantai bawah. Semisalnya kamu lupa lagi membawa kunci, ambil saja padanya. Ingat tutup pintu dan jendela sebelum pagi-pagi berangkat kerja, kalau tidak air hujan bisa masuk ke rumah mengotori lantai. Aku sudah membuat pangsit untukmu Kutaruh di dapur. Sepulang dari kantor, kamu dapat memasaknya sendiri”. Istrimu…

Surat itu begitu sulit di baca karena tulisan istrinya sangat jelek bagai sebuah kapal pecah. Namun, setiap hurufnya bagaikan sebuah cinta yang sangat tulus dari istrinya.

Sang suami kembali teringat saat 20 tahun yang lalu, dimana ia merupakan seorang kuli bangunan. Saat itu istrinya selalu menyiapkan pangsit, memotong sayur di dapur ketika ia pulang. Betapa bahagianya ia saat itu karena memiliki seorang istri yang cinta dan sayang kepadanya.

Saat itu ia pernah berjanji kepada dirinya sendiri ‘ Saya harus memberi kebahagiaan untuk istri saya tercinta”.

Kemudian ia segera berlari dan menghidupkan mobil. Tujuannya hanyalah ke stasiun kereta api, karena transportasi yang menuju ke kampung halaman istrinya hanya kereta api.

Akhirnya dengan susah payah ia menemukan istrinya…

Dengan nada marah ia berkata, "Kamu mau ke mana? Sepagian aku letih di kantor, pulang ke rumah sesuap nasi pun tak dapat kutelan. Begitu caranya kamu jadi istri? Keterlaluan. Cepat ikut aku pulang!" Mata sang istri berkaca-kaca, dengan taat ia pun berdiri mengikuti sang suami dari belakang. Mereka pun pulang. Perlahan, air mata sang istri berubah menjadi senyum bahagia.... Ia tidak mengetahui bahwa sang suami yang berjalan di depannya telah menangis sedemikian rupa... Dalam perjalanan sang suami berlari dari rumah ke stasiun kereta, ia begitu takut.. Ia takut tidak berhasil menemukan istrinya, ia sangat takut kehilangan dia. Ia menyesali dirinya mengapa dirinya begitu bodoh hingga hendak mengusir wanita yang begitu ia cintai. Kehidupan pernikahan selama 20 tahun ini ternyata telah mengikat erat-erat mereka berdua menjadi satu.

Kehidupan, kecintaan mereka berdua dalam ikatan pernikahan selama 20 tahun ternyata mempererat mereka dua menjadi satu.

Sahabat renungan Islam, sebuah nilai kasih sayang, cinta antara seorang istri dan suami tidak dapat dinilai. Kekayaan itu bukan sebuah angka yang ada didalam tabungan hingga milyaran rupiah. Kekayaan dan kebahagian terletak pada setiap senyuman istri dan juga suami serta saling menyemangati dalam menjalani hidup baik saat didalam kesulitan ataupun kesuksesan.

Inspirasi dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat, Jazakumullah.