Benarkah Anak Bisa di Khitan OIeh Jin. Ini Jawabannya - Renungan Islam | Kisah Inspirasi

Benarkah Anak Bisa di Khitan OIeh Jin. Ini Jawabannya

Anda pasti mendengar fenomena tentang seseorang anak yang sudah dikhitan oleh Jin. Kejadian yang dialami Anak tersebut kadang ketika sedang asik bermain tiba-tiba saja tanpa langsung sudah dikhitan. Apakah pelakunya Jin atau itu hanya sebuaf fenomena kesehatan semata. Mungkin sebagian dari Anda pasti mendengar anak dikhitan atau disunat oleh Jin. Berikut ini penjelasannya yang kami ambil dari sumber konsultasi syariah. Semoga bermanfaat untuk Anda semua.


Manusia Dikhitan Jin?
Ustadz sy ingin bertanya, anak sy 3 hr yg lwt kemaluannya seperti sdh di khitan bgimn bs sprti itu kejadiannya, mhon pencerahan dr pak ustadz
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Kami tidak menjumpai keterangan mengenai anak kecil dikhitan jin. Apa benar pelakunya jin ataukah hanya mitos di masyarakat. Hanya saja, kejadian anak kecil terbuka kepala p3n1s tanpa mengalami proses khitan, bisa dijelaskan secara medis.
Kami kutipkan keterangan dalam buku Ensiklopedi Khitan, oleh dr. Adika Mianoki,
“Anak yang mengalami kejadian seperti dikhitan jin dalam istilah medis disebut parafimosis. Parafimosis adalah Kelainan bentuk p3n1s yang terjadi karena preputium yang tertarik ke belakang dan melipat serta menjerat batang p3n1s sehingga tidak bisa lagi ditarik ke depan yang menyebabkan kepala p3n1s terlihat seolah-olah seperti telah dikhitan. Kondisi yang menyebabkan terjadinya parafimosis antara lain faktor setelah ereksi, menarik p3n1s terlalu kuat pada saat mau kencing, atau karena p3n1s sering dibuat main-main pada anak sehingga menyebabkan kulup yang tertarik tidak bisa kembali lagi.
Anak yang mengalami kondisi ini harus segera dikhitan untuk mencegah agar kulup tidak menjerat p3n1s. Jika tidak dikhitan, dikhawatirkan akan menjerat p3n1s dan mencegah aliaran darah sehingga menyebabkan edema (bengkak) dan kematian jaringan p3n1s. Sebaiknya segera hubungi dokter apabila ada anak yang menagalami kejadian seperti ini.” (Ensiklopedi Khitan, hlm. 51).
Apakah Masih Wajib Khitan?
Khitan bagi lelaki hukumnya wajib. Ketika ada orang yan hendak masuk islam, Rasulullah  SAW memerintahkan orang itu untuk berkhitan. Beliau bersabda, Hilangkan darimu rambut kekafiran ( yang menjadi ciri orang kafir ) dan berkhitanlah. ( HR. Ahmad 15830, Abu Dawud 356, dan dihasankan al-Albani)
Terlepas dari kajian masalah kesehatan, apakah anak laki-laki yang sudah terkhitan masih wajib dikhitan?
Ada dua pendapat ulama,
Pertama, tidak ada kewajiban khitan dan tidak ada kewajiban harus mengusapkan pisau di p3n1s, sebagai bentuk khitan secara simbolik. Karena dia sudah tidak butuh dikhitan.
Ini merupakan pendapat Malikiyah, Syafiiyah dan Hambali.
Dalam Hasyiyah al-Jamal – kitab fiqh Madzhab Syafii – dinyatakan :
Jika dia dilahirkan dalam kondisi telah dikhitan, maka tidak ada lagi khitan. Tidak diwajibkan maupun dianjurkan. (Hasyiyah al-Jamal, 21/292)
Kemudian dalam Hasyiyah al-Adawi – buku Fiqh Maliki – dinyatakan,
Kata sebagian ulama pensyarah, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa tidak perlu mengusapkan pisau di ujung p3n1s. (Hasyiyah al-Adawi, 1/749)
Demikian pula keterangan Imam Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam riwayat al-Maimuni. Beliau mengatakan, bahwa Imam Ahmad bercerita kepadaku,
Di sana ada orang yang ketika anaknya lahir, sudah dikhitan. Lalu orang itu sedih dan bingung. Aku sampaikan kepadanya, “Jika Allah sudah menghilangkan beban khitan anak ini darimu, mengapa kamu malah bingung?” (Zadul Ma’ad, 1/80).
Kedua, dianjurkan untuk menempelkan pisau di ujung p3n1s. Sebagai bentuk khitan simbolik. Sebagaimana orang botak ketika tahallul, dianjurkan untuk menempelkan pisau di kepalanya sebagai tahallul simbolik.
Ini pendapat sebagian Syafiiyah.
Dalam Hasyiyah al-Jamal dinyatakan,
Sebagian ulama Syafiiyah mengatakan, dianjurkan menempelkan pisau di ujung p3n1s. (Hasyiyah al-Jamal, 10/159)
Namun pendapat ini dinilai sangat lemah oleh banyak ulama. karena khitan simbolik, sama sekali tidak ada artinya dan tidak ada manfaatnya. (sumber konsultasisyariah)