Dengan Penuh Kesedihan Seorang Ayah Melamarkan Kerja Untuk Anaknya - Renungan Islam | Kisah Inspirasi

Dengan Penuh Kesedihan Seorang Ayah Melamarkan Kerja Untuk Anaknya

Cerita nyata ini Saya alami sendiri, ketika itu Saya mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan swasta. Saya datang pagi-pagi dengan alasan agar Saya tidak terlambat datang. Sampai ditempat saya pun langsung dipersilahkan masuk oleh bagian HRD untuk mengikuti serangkaian test. Setelah masuk ke ruangan ternyata disana sudah ada tiga orang yang sudah ada. Saya pun duduk disebuah kursi yang sudah dipersiapkan.

Ilustrasi
Sebelum memulai rangkaian test kerja, kami yang sedan khusyuk memperhatikan HRD yang sedang menerangkan, tiba-tiba kami dikagetkan dengan seorang bapak tua yang mengetuk pintu ruangan, kebetulan saat itu pintu hanya ditutup setengah, nampak terlihat pakaian yang dikenakan bapak itu cukup kumel dan tidak layak. HRD pun mempersilahkan masuk dan mempertanyakan maksud kedatangan bapak tua tersebut. Saya pun terkaget ketika bapak tua itu menyodorkan sebuah amplop yang saya kira adalah sebuah CV lamaran kerja. kemudian terjadi percakapan antara HRD dan bapak tua tersebut

HRD : "ini apa pak, lamaran?"

Bapak tua : "iya bu itu lamaran kerja"

HRD : "tapi sepertinya umur bapak sudah tidak cukup untuk melamar ditempat kami"
Bapak tua : "itu bukan buat saya bu, tapi untuk anak saya"

HRD : (terdiam) oh kalau begitu Bapak silahkan tunggu dulu diluar, saya mau melihat CV anak bapak, nanti kalau test hari ini selesai, saya akan temui Bapak"

Saya pun kaget mendengar bapak itu melamar untuk anaknya, bahkan dalam hati saya bertanya-tanya "memang anak bapak itu tidak bisa memberikan lamaran sendiri, sehingga harus orang tuanya yang sudah tua renta memberikan lamaran tersebut?".

Test pun selesai, setelah mengumpulkan soal test, saya pun bergegas keluar untuk menemui bapak tua tersebut. Nampak dia sedang bengong duduk disebuah kursi sambl memegang kakinya. Dengan rasa iba saya pun memberanikan diri untuk mendekati bapak tua itu. "permisi pak, boleh saya duduk disini?" Bapak itu pun menoleh Saya "oh silahkan dek.." Setelah saya dipersilahkan duduk, Saya memberanikan diri untuk bertanya, hingga terjadi sebuah percakapan.

Saya : "Maf ya pak kalau Saya lancang, tapi saya boleh tau gak kenapa bapak sendiri yang memberikan lamaran kerja tadi, memang anak bapak kemana?"

Bapak tua: (terdiam) "ada dirumah dek"

Saya: "Loh, kenapa gak dia aja yang datang kesini?" Saya dengan rada heran

Bapak tua itu jawabnya agak lama, saya pun jadi gak enak bertanya seperti itu, namun setelah beberapa menit kemudian Dia pun bicara "Bapak berharap, setelah anak bapak lulus Ia cepat mendapatkan pekerjaan, dan bisa membantu Bapak membiayai adik-adiknya yang masih sekolah, bapak ini sudah tua, udah gak kuat nyari duit lagi" Bapak itu sambil memelas.

Saya: "Lah memang anak bapak selama ini belum mendapatkan pekerjaan?"

Bapak tua : "belum dek, selama ini anak bapak hanya senang main dan hura-hura sama teman-temannya, padahal sudah lama dia lulus sekolah, bapak sudah bilang kalau bapak sudah tidak kuat nyari nafkah lagi karena keadaan bapak sudah renta, tapi tetap saja anak bapak malas mencari kerja"

Saya : "ya ampun pak, anak bapak tega banget.. kalau boleh tau pekerjaan bapak apa?"

Bapak tua : "pekerjaan Bapak hanya seorang kuli panggul dipasar dek"

Saya miris mendengar kalau bapak itu kuli panggul dipasar, Saya pun mau tanya lagi, tapi tiba-tiba HRD memanggil bapak itu.

Setelah beberapa menit masuk ke ruangan, bapak itu akhirnya keluar. Saya pun bergegas bertanya kembali.

Saya : "bagaimana pak, diterima?"

Bapak tua : "gak dek" dengan wajah memelas

Saya: "yang sabar ya pak, nanti saya kabarin kalau ada lowongan ditempat lain. oia bapak kesini naik apa?"

Bapak tua: "makasih ya dek, bapak jalan kaki dari rumah"

untuk mempersingkat cerita akhirnya bapak itu pun pulang sendiri. padahal dia bilang kalau jarak rumahnya cukup jauh, sebenarnya saya gak tega dan coba memberikan sisa uang yang saya punya buat ongkos dia pulang kerumah, namun ditolak mentah-mentah. andai Saya tidak sedang menunggu pengumuman hasil test kerja, pasti saya akan ikuti bapak itu sampai dirumahnya.

Sungguh "keterlaluan" anak bapak ini, sangat tega dan tidak punya belas kasihan sama ayahnya. sampai sebegitu jauhnya perjuangan seorang ayah, saat ia menyadari jika dirinya sudah tua, namun anaknya "seolah selalu menggantungkan orang tuanya. Tapi ayah tua ini seolah ikut dan ingin mendorong anaknya agar dapat kerja, namun anaknya tidak tahu diri..

Huk huk huk....sedih sekali melihat kasus ini, namun itulah kenyataan yang ada, hingga aku bisa menuliskan cerit ini.

Kerja itu ada masanya, saat jasmani telah termakan usia maka jangan "cemburu, iri atau benci" kalau yang muda mengganti yang tua.


Dan yang tua seharusnya sudah tidak harus kerja sebagaimana ia saat ia muda...

Tenaga, pikiran dan kesehatan tentu tidak sama saat muda dengan saat usia telah renta.

Kerja dan usia itu ada batasnya, tidak selamanya kerja itu ada dan tidak selamanya usia itu mendukung kerja yang ada.

Semoga semakin tua bukannya semakin sedih, dan capek dalam memikirkan kerja, karena selalu diburu buru untuk mencukupi nafkahnya, maupun keluarganya.
karena saat usia telah lanjut maka yang mudalah yang akan menggantikannya. (sumber Line Teladan Rasulullah)

Semoga dari kisah tersebut kita semua bisa mengambil hikmahnya dan menjadi pelajaran hidup. Sebagai anak jangan pernah sama sekali mempersulit orang tua kita sendiri. Sayangilah mereka, khusus anak laki-laki semoga bisa menjadi seseorang lebih mandiri dan bisa mengayomi adik-adik.