Keajaiban Shalat Dhuha Serta Tata Cara Pelaksanaannya - Renungan Islam | Kisah Inspirasi

Keajaiban Shalat Dhuha Serta Tata Cara Pelaksanaannya

Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim ketika waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Secara umum dapat disimpulkan bahwa status hukum shalat dhuha, berdasarkan banyak hadits yang berkaitan adalah sunnah.

“Demi waktu matahari sepenggallah naik dan demi malam apabila telah sunyi” ( Q.S. Adh-dhuha ayat 1-2)

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” ( Q.S. Al-Maidah ayat 35 )

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Shalat Dhuha itu dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang bertaubat.”

“Kekasihku Rasulullah SAW, telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha dan witir sebelum tidur.” ( HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud )

“Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.” ( HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah )

Aisyah R.A berkata, “ Jika Rasulullah SAW meninggalkan suatu amalan yang beliau suka mengamalkannya, hal itu karena beliau khawatir orang-orang menganggapnya suatu yang diwajibkan. Dan tidak sekalipun Rasulullah SAW melaksanakan shalat sunnah dhuha, kecuali akupun melakukannya.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di surga”. ( HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan )

Dari Abu Said Al-Khudry, ia berkata “Adalah Rasulullah SAW mengerjakan shalat Dhuha, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Dan jika beliau meninggalkannya, kami mengira seakan-akan beliau tidak pernah mengerjakannya”. ( HR. Turmuzi, hadis hasan)

“ Tidak ada alasan bagi orang mukmin untuk tidak melakukan shalat dhuha.” ( Imam Syafi’i )

Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa karena semua makhluk dibatasi oleh waktu. Oleh karena waktu malam dan dhuha merupakan waktu yang paling utama dalam setiap harinya.


Waktu Shalat Dhuha

Dari Zaid bin Arqam, bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan shalat dhuha pada waktu yang belum begitu siang, maka ia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Shalatnya orang-orang yang kembali kepada ALLAH adalah pada waktu anak-anak unta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari”. ( HR. Muslim )

Penjelasan: Anak-anak onta sudah bangun karena panas matahari itu dikaitkan dengan pagi hari jam 08:00 AM. Adapun sebelum jam itu dianggap belum ada matahari yang sinarnya dapat membangunkan anak unta. Tepatnya antara jam 08.00 s.d 11.00 AM.

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

4 RAKAAT
Dari Mu’dzah, bahwa ia bertanya kepada Aisyah: “Berapa jumlah rakaat Rasulullah SAW ketika menunaikan shalat dhuha?” Aisyah menjawab: “Empat rakaat dan beliau menambah bilangan rakaatnya sebanyak yang beliau suka.” ( HR. Muslim dan Ibnu Majah )

8 RAKAAT
Dari Ummu Hani binti Abu Thalib, ia berkata: “Saya berjunjung kepada Rasulullah SAW pada tahun Fathu (Penaklukan) Makkah. Saya menemukan beliau sedang mandi dengan ditutupi sehelai busana oleh Fathimah putri beliau”. Ummu Hani berkata: “Maka kemudian aku mengucapkan salam”. Rasulullah pun bersabda: “Siapakah itu?” Saya menjawab: “Ummu Hani binti Abu Thalib”. Rasulullah SAW bersabda: “Selamat datang wahai Ummu Hani”. Sesudah mandi beliau menunaikan shalat sebanyak 8 (delapan) rakaat dengan berselimut satu potong baju. Sesudah shalat saya (Ummu Hani) berkata: “Wahai Rasulullah, putra ibu Ali bin Abi Thalib menyangka bahwa dia boleh membunuh seorang laki-laki yang telah aku lindungi, yakni fulan Ibnu Hubairah”. Maka Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya kami juga melindungi orang yang kamu lindungi, wahai Ummu Hani”. Ummu Hani juga berkata: “Hal itu (Rasulullah shalat) terjadi pada waktu Dhuha.” ( HR. Muslim )

12 RAKAAT
Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat dhuha sebanyak 12 rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”.
( HR. Turmuzi dan Ibnu Majah )

Tata Cara Shalat Dhuha
1. Berniat untuk melaksanakan shalat sunat Dhuha setiap 2 rakaat 1 salam. Seperti biasa bahwa niat itu tidak harus dilafazkan, karena niat sudah dianggap cukup meski hanya di dalam hati.
2. Membaca doa iftitah.
3. Membaca surah Al-Fatihah.
4. Membaca surah Asy-Syamsu (QS:91) pada cukup dengan membaca Qulya (QS:109) jika Syamsu itu. rakaat pertama, tidak hafal surah atau Asy-syamsu itu.
5. Membaca surah Adh-Dhuha (QS:93) pada rakaat kedua, atau cukup dengan membaca Qulhu (QS:112) jika tidak hafal surah Adh-Dhuha.
6. Rukuk, iktidal, sujud, duduk dua sujud, tasyahud dan salam adalah sama sebagaimana tata cara pelaksanaan shalat fardhu.
7. Menutup shalat Dhuha dengan berdoa. Inipun bukan sesuatu yang wajib, hanya saja berdoa adalah kebiasaan yang sangat baik dan dianjurkan sebagai tanda penghambaan kita kepada ALLAH.

Doa Sesudah Shalat Dhuha

ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.



Artinya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.