Untuk Kamu yang Lebih Mementingkan Hal Lain Ketimbang Ibumu Sendiri. Baca Ini - Renungan Islam | Kisah Inspirasi

Untuk Kamu yang Lebih Mementingkan Hal Lain Ketimbang Ibumu Sendiri. Baca Ini

Sosok Ibu begitu sentral dan penting dalam kehidupan anak-anaknya karena kasih sayang datang dari Ibu. Sedangkan Ayah merupakan tempat perlindungan bagi keluarga. Ibu lebih mengerti tentang apa yang dirasakan, apa yang dibutuhkan atau apa yang diinginkan anaknya. Ibu mewakili setiap detik cerita dalam hidup kita semua. Meskipun tidak pernah melupakan keberadaan seorang Ayah yang turut ada dan hadir dalam kehidupan kita sebagai anaknya.

Sebagai seorang anak cukup sibukkah waktu yang kita punya sehingga sulit untuk ada bersama Ibu sendiri ataupun sekedar menyapanya lewat komunikasi yang begitu canggih, bahkan ibu bisa dihubungi melalui komunikasi milik orang dikampung jauh dari kehidupan kita sebagai anaknya. Untuk kamu yang sibuk, bacalah tentang Ibumu dibawah ini. Selamat membaca !

1. Ibumu menghabiskan hidupnya selama 9 bulan tanpa memperdulikan keadaannya. Saat melahirkanmu, kesakitannya hampir sama dengan 40 tulang rusuk dihancurkan bersamaan. Nyawanya menjadi taruhan kelahiranmu.


Seorang Ibu sudah pasti mengandung anaknya selama kurang lebih 9 bulan. Saat masa tersebut sebagai anaknya kita tentu tidak mengetahui apa yang terjadi terhadap Ibu kita sendiri, terlebih Ayahanda tidak pernah menceritakannya. Sungguh banyak hal yang terjadi ketika seorang Ibu hamil. Dengan susah payah ia mempertahankan janin kecilnya dan berharap dengan penuh doa menyambutnya di dunia.

Ketika sedang berjuang melahirkan anaknya, bahkan kesakitannya digambarkan seperti 40 lebih tulang rusuk dipatahkan (retak) secara bersamaan. Normalnya seseorang hanya sanggup menahan patahan 20 tulang rusuk saja. Sanggupkah kita membayangkan kesakitan Ibu saat melahirkan anak-anaknya.

2. Tanpa kamu sadari, selama 0 hari-sampai usia 5 tahun Ibumu yang selalu membantu pekerjaanmu.


Pastinya Balita (bayi dibawah lima) tahun belum mampu melakukan apapun terhadap dirinya sendiri. Inilah yang terjadi pada kondisi kita dulunya.  Ibu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan menjaga dan merawat kita serta mengerjakan apa yang belum bisa kita kerjakan.

Jangan pernah berpikir itu sudah seharusnya dilakukan oleh Ibu. Ibumu tidak pernah meminta balasan sama seperti ia menjaga dan merawatmu ketika kecil. Meskipun Ibumu sudah renta ia lebih memilih menempati tempat tinggalnya dibandingkan tinggal bersama anaknya.

3. Disaat kamu bersekolah Ibu selalu mengantarmu dan menunggumu pulang. Disaat ada waktu luang dan dari kejauhan ia mengintipmu ketika sedang belajar.


Kebanyakan perempuan tidak bekerja diluar rumah karena suaminya yang bekerja. Ibu-ibu lebih sering menghabiskan waktu dirumah sebagai ibu rumah tangga. Sebagai Ibu rumah tangga, terlebih disaat zaman seperti ini selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan anak-anaknya bersekolah. Ada sebagian Ibu yang menghabiskan menunggu anaknya hingga pulang sekolah sembari mengintip anaknya dari kejauhan. Biasanya jika anaknya masih di Taman Kanak-Kanak. Mungkin bagi kamu yang Ibunya seperti ini pasti mengingat memori masa kecilnya.

4. Kenakalanmu pasti akan muncul pada masa remaja. Jika terjadi sesuatu terhadapmu, Ibu yang selalu membelamu.

Saat bersekolah mulai SMP hingga SMA disinilah kenakalan mulai terbentuk dalam diri seseorang. Sebagian dari kamu pasti merasakan kenakalan tersebut terutama bagi yang laki-laki. Kadang kala, tiba saatnya kamu ditegur pihak sekolah, atau Ayahmu menegurmu karena kesalahanmu. Berbeda dengan Ibu, meski tidak setuju dengan sikapmu ia tidak ingin kamu dihukum dan dimarahi.

Bagi yang merasa suka nakal coba ingat-ingat masa ini.

5. Ketika kamu sedang mengalami kegelisahan, Ibu selalu menenangkanmu dan menyemangatimu setiap hari.


Sangatlah lumrah jika seseorang mengalami kegelisahan, kegundahan atau apalah namanya. Terutama yang terlalu gampang bawa perasaan dan masih muda. Mungkin ini khusus kamu perempuan, tentu sangat dekat dengan Ibumu. Pastinya disaat kondisi begitu Ibumu selalu ada menenangkanmu. Tidak sedikit pula yang anak laki-laki dimanja ibunya meskipun umur hampir 17 tahun. Pasti kalian mengingatnya.

Dari gambar saja bisa terlihat Ibu menenangkan anaknya saat akan dikhitan. Bagi yang laki-laki pernah gak kayak gini.

6. Kamu bersiap-siap menghadapi ujian kelulusan, Ibu selalu berdoa untukmu dan mendukungmu.

Ujian akhir kelulusan SMP, SMA, Kuliah pasti sangat deg deg-an dan perasaan cemas campur aduk. Ingatlah kesuksesan seorang anak saat mengikuti ujian tidak terlepas dari doa seorang Ibu. Meskipun kamu tidak pernah meminta Ibumu berdoa, saya pastikan seorang Ibu akan melakukannya setiap hari (berdoa).

7. Usia 17 tahun kamu bersiap-siap mengikuti ujian perguruan tinggi menuju bangku kuliah. Ibumu orang pertama yang mendoakan kelulusanmu. Meski ia tau berat ditinggalkan anak-anaknya terlebih anak perempuannya.


Nah, ini untuk kamu yang sedang menjalani masa-masa kuliah ataupun pernah berkuliah. Terutama perempuan, meskipun Ibumu merasa berat melepas kepergian anaknya, tetap ia merelakan pada akhirnya. Ibumu mendokan kelulusanmu untuk mengejar cita-cita menjadi sarjana dan Ibu tidak lupa menitip puluhan bahkan nasehat jika berada di negeri orang saat menempuh pendidikan kuliah nanti.

Kalau anak perempuan bawaanya berat berpisah dari orang tua, bukan begitu !

8. Ibu bukanlah seorang yang baper, namun ia sangat gelisah ketika dirimu kesulitan (sakit atau lainnya) di negeri orang.


Ibumu orang pertama kali yang merasa sangat kesusahan dan gelisah jika ia mengetahui anaknya sedang kesulitan seperi sakit atau hal lainnya di negeri orang saat menempuh pendidikan ataupun sudah bekerja. Ingat, ikatan seorang Ibu terhadap anak lebih kuat daripada lainnya. Tidak ada hambatan (pembatas) antara Ibu dan Anak, dan Ibumu yang dikampung sana selalu mengirimkan doa untuk keselamatan anaknya.

9. Ketika dirimu selesai di wisuda, jangan lupa doa-doa Ibumu selalu mengiringi setiap langkah kakimu menjelajah pendidikan di negeri orang. Ibumu orang paling bahagia melihat anaknya mencapai cita-cita kecilnya.

Ini cerita untuk mereka yang mengenyam bangku kuliah. Perjuangan kamu mulai dari semester 1 sampai kamu akhirnya memakai baju toga juga dibarengi doa Ibumu. Jangan pernah malu menggandeng Ibumua (Ayahmu) saat wisuda. Kenalkan pada teman-temanmu meskipun Ibumu orang sangat ‘kampungan’. Ibumu orang paling bahagia didunia melihat anaknya sukses dibangku kuliah dan bersiap-siap menghadi kerasnya kehidupan demi masa depan.

10. Sekarang dirimu sudah memiliki pasangan hidup. Ibumu tidak mengharap banyak darimu. Jenguklah ia sesekali dan doakan ia.  Tidak ada seorang Ibu yang menuntut balasan dari anaknya.

Pada akhirnya kamu sudah memiliki secuil kesuksesan. Kamu sudah berkeluarga, hidup dengan pasanganmu bersama-sama membina keluarga kecilmu. Pesan untuk dirimu, janganlah pernah melupakan Ibumu, coba baca kembali artikel ini dari pertama sampai terakhir bagian manakah yang membuat dirimu menangis. Seorang Ibu tidak menuntut banyak hal dari anaknya. Meski Ibumu sudah tua, renta dan reot ia sangat bahagia dengan gubuk kecilnya, meskipun anaknya hidup bahagia jauh disana dinegeri orang. Sempatkan waktu mengunjungi Ibumu, Tanya kabar Ibumu bila perlu setiap hari. Jangan lupa selalu doakan ibumu untuk keselamatan di dunia dan di akhirat.

Jadilah anak yang berbakti kepada orang tua meskipun mereka sudah lama meninggalkan dunia ini.

11. Masihkah kamu lebih mementingkan hal lainnya ketimbang mengurus Ibumu sendiri. Lihatlah betapa reotnya Ibumu dan Ayahmu sekarang.


Sekarang untuk kamu seseorang yang terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Masihkah mementingkan hal lain dibandingkan mengurus ibumu sendiri. Coba perhatikan lagi wajah Ibu dan Ayahmu sekarang, berapa banyak garis dan raut lelah yang tersirat darinya.

Penulis sendiri rela meninggalkan semua yang berbau dunia jika orang tuanya sedang sakit atau membutuhkan sekalipun resikonya dipecat, dikeluarkan dari pekerjaan atau hal buruk lainnya. Paling penting penulis menyediakan waktu bersama kedua orang tua terlebih saat mereka sakit. Harta, uang, segala yang ada didunia ini tidak perlu dikejar, hanya Surga cita-cita kita semua. Cukup ridha orang tua mengantarkan sang Anak ke Surga.

Terimakasih sudah menyempatkan diri membaca sebuah ringkasan renungan hidup. Semoga bermanfaat bagi sahabat semua. (mz owner blog)