Inilah Mengapa Shalat Dzuhur dan Ashar Imamnya Tidak Bersuara - Renungan Islam | Kisah Inspirasi

Inilah Mengapa Shalat Dzuhur dan Ashar Imamnya Tidak Bersuara

Sebelum mengetahui lebih lanjut alasan mengapa shalat Dzuhur dan Ashar Imamnya tidak bersuara, terlebih dahulu Anda harus mengetahui shalat dibagi atas dua yaitu :
  • Shalat jahriyyah
  • Shalat sirriyah
Nah, berikut penjelasan mengapa pada saat Shalat Dzuhur dan Ashar Imam tidak bersuara :


1. Shalat jahriyyah (shubuh asyar dan maghrib)

Pernah Rasulullah SAW membolehkan kepada orang-orang yang ma'mum untuk membaca qiro'at di belakang Imam di dalam Shalat jahriyyah, hingga suatu ketika Dalam Shalat fajar (subuh) Beliau SAW membaca qiro'at, lalu terasa berat (sulit) baginya untuk membacanya.


Sesudah selesai Shalat, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Jangan, jangan kalian membaca qiro'at di belakang imam kamu. Kami berkata, benar, dengan cepat-cepat, wahai Rasulullah. Beliau SAW. bersabda, Jangan kalian kerjakan, kecuali - apabila salah seorang di antara kamu membaca Fatihatal-kitab. Karena sesungguhnya tidak sah Shalat orang yang tidak membacanya. (Abu Dawud dan Ahmad, serta di hasankan oleh Turmudzi dan Daroquthni).

Namun itu tidak bertahan lama karena rasullulah Shalat pada suatu waktu (para ahli mengatakan Shalat shubuh) dan setelah selesai Beliau berkata : Apakah ada di antara kamu yang membaca qiro'at bersama tadi?! Seorang laki-laki berkata, Benar aku wahai Rasulullah. Beliau bersabda, "sesungguhnya aku menyatakan bahwa aku tidak menyelang-nyelangi di dalam qiro`at  dan setelah itu mereka tidak mengeraskan bacaan mereka  dan mulai membaca di dalam hati

2. Shalat sirriyyah (zhuhur dan ashar)

Sesungguhnya allah memperbolehkan  untuk membaca qiro'at di dalamnya namun kita tidak dianjurkan untuk membacanya dengan keras  karena dalam suatu hari Rasullulah SAW  sedang Shalat dzuhur dengan para sahabatnya setelah selesai tiba tiba Beliau bersabda  yang artinya : Siapa di antara kamu yang membaca "Sabbihisma Robbikal-a'la?" Seorang lelaki berkata: Aku - dan aku hanya menginginkan kebaikan dengan bacaan itu. Maka Beliau SAW. bersabda, Aku telah mengetahui bahwa seorang laki-laki telah membimbangkan pikiranku dengan bacaan itu. (Muslim, Abu 'Uwanah dan As-Siraj).


Setelah itu Rasulullah bersabda  yang artinya : “Aku telah mengetahui bahwa seorang laki-laki telah membimbangkan pikiranku dengan bacaan itu  (Muslim, Abu 'Uwanah dan As-Siraj).

Kesimpulan jadi manakah yang boleh kita untuk mengeraskan  suaranya sesuai dengan apa yang dikatakan para sahabat  (imam syafi'i Muhammad murid abu Hanifah, Imam Al-Zuhri, Malik, Ibnu Al-Mubarok dan Ahmad bin Hanbal)) telah berpendapat bahwa qiro'at dalam Shalat yang sirriyyah disyari'atkan (tentunya dengan batasan hadiest di atas yaitu tidak saling mengganggu).

Karena Rasulullah bersabda  barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab allah swt  maka akan mendapatkan satu kebaikan. Wallahualam